BERAU — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Berau mendorong perubahan cara pandang dalam politik daerah. Kepemimpinan Berau dinilai tidak semestinya hanya dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan satu periode pemerintahan, tetapi harus memiliki arah pembangunan yang mampu menjangkau 10, 20 hingga 30 tahun ke depan.
Sekretaris Jenderal PSI Berau, Mupit Datusahlan, mengatakan Berau membutuhkan desain kepemimpinan jangka panjang untuk menghadapi perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, tantangan lingkungan, serta dinamika pengelolaan sumber daya alam.
Menurutnya, politik daerah perlu mulai keluar dari orientasi elektoral semata dan lebih banyak membicarakan arah masa depan Berau.
“Berau memiliki modal pembangunan yang besar, mulai dari pertambangan, kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, pesisir hingga pariwisata. Semua potensi itu harus dikelola dengan perencanaan yang matang agar manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Mupit menilai, pemimpin Berau pada masa mendatang dituntut mampu membaca perubahan dan memahami persoalan lintas sektor. Kemampuan memimpin, menurutnya, tidak cukup hanya bertumpu pada pengalaman birokrasi maupun politik.
Pemimpin daerah juga perlu memahami persoalan ekonomi, lingkungan, teknologi, investasi, pendidikan, pengembangan desa hingga pengelolaan sumber daya alam.
Politik Jangan Hadir Saat Pemilu Saja
PSI Berau juga mendorong agar partai politik lebih aktif hadir dalam persoalan masyarakat sehari-hari. Politik, kata Mupit, tidak seharusnya hanya muncul ketika memasuki momentum pemilihan umum.
Berbagai persoalan seperti harga pangan, lapangan pekerjaan bagi generasi muda, kepastian pasar bagi petani, penguatan ekonomi desa hingga keberlanjutan sumber daya alam dinilai perlu menjadi bagian dari pembahasan politik daerah.
“Politik harus mampu melahirkan gagasan yang menjawab persoalan masyarakat sekaligus mempersiapkan daerah menghadapi tantangan masa depan,” katanya.
Karena itu, penguatan struktur organisasi partai dinilai perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas kader.
Kader politik, menurut Mupit, tidak cukup hanya memiliki kendaraan politik. Mereka juga harus dibekali pengetahuan, pengalaman, kemampuan manajerial, kapasitas organisasi serta pemahaman terhadap persoalan masyarakat.
Siapkan Pemimpin, Bukan Sekadar Kandidat
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan langkah PSI Berau yang mulai mempersiapkan kader internal untuk menghadapi kontestasi politik di masa mendatang.
Mupit menegaskan, proses tersebut tidak sekadar mencari nama yang nantinya dapat diusung dalam pemilihan. Lebih dari itu, PSI ingin membangun standar kepemimpinan yang memiliki kapasitas dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Figur yang dipersiapkan, kata dia, harus memiliki pengalaman, wawasan, kompetensi, kemampuan manajerial, rekam jejak serta integritas.
Faktor usia juga tidak dijadikan satu-satunya ukuran dalam proses regenerasi kepemimpinan.
Menurutnya, semangat menghadirkan generasi baru harus dibarengi kemampuan nyata dalam memimpin, mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan amanah publik.
Dengan demikian, identitas PSI sebagai partai yang banyak diisi generasi muda tidak berhenti pada simbol regenerasi. Generasi muda justru dituntut membuktikan kapasitasnya ketika memasuki ruang kepemimpinan publik.
Membayangkan Berau 2045
PSI Berau mendorong agar pembahasan masa depan daerah mulai diarahkan pada kondisi Berau pada 2045.
Pertanyaan yang perlu dibahas, menurut Mupit, bukan hanya mengenai siapa yang akan memimpin dalam satu periode, tetapi bagaimana Berau membangun struktur ekonomi ketika terjadi perubahan terhadap sektor-sektor berbasis sumber daya alam.
Termasuk bagaimana memastikan generasi muda memperoleh kesempatan kerja, desa memiliki kekuatan ekonomi, masyarakat di sekitar kawasan sumber daya alam memperoleh manfaat, serta kelestarian lingkungan tetap terjaga.
Persoalan tersebut dinilai membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat pembangunan secara lintas sektor dan memiliki perspektif jangka panjang.
“Politik harus menjadi ruang untuk menyiapkan masa depan, bukan sekadar arena pergantian kekuasaan dalam setiap siklus pemilu,” tegas Mupit.
Pada akhirnya, masyarakat tetap memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang dipercaya memimpin daerah. Sementara partai politik memiliki tanggung jawab mempersiapkan kader yang memiliki kapasitas, kompetensi, rekam jejak dan integritas.
“Politik anak muda bukan tentang menggantikan generasi lama hanya karena usia. Politik anak muda adalah keberanian membawa cara berpikir baru dan menyiapkan masa depan dengan lebih serius,” demikian gagasan yang didorong PSI Berau.












