Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
Politik

Mupit Datusahlan: Masa Depan Berau Ditentukan Keberanian Tinggalkan Pola Pembangunan Lama

ZonaTV
20
×

Mupit Datusahlan: Masa Depan Berau Ditentukan Keberanian Tinggalkan Pola Pembangunan Lama

Sebarkan artikel ini
6a986644 faab 4b63 a502 495c3bbfcfd0
Foto: Sekretaris DPD PSI Berau Mupit Datusahlan (IST)

BERAU – Di setiap pembahasan mengenai pembangunan daerah, sering kali perhatian lebih banyak tertuju pada seperti apa wajah daerah yang ingin diwujudkan. Namun, menurut Mupit Datusahlan, fondasi menuju cita-cita tersebut justru kerap luput dari pembahasan.

“Membangun daerah bukan sekadar menggambar masa depan yang indah, tetapi memastikan fondasi menuju ke sana benar-benar kokoh,” tulis Mupit dalam opininya.

Ia mengibaratkan pembangunan daerah layaknya membangun sebuah rumah. Tidak cukup hanya memiliki desain yang menarik, tetapi juga membutuhkan material yang kuat, tenaga kerja yang kompeten, pembiayaan yang memadai, serta keberanian mengambil keputusan ketika menghadapi berbagai tantangan.

Di sisi lain, Mupit menilai kritik terhadap pemerintah tetap memiliki peran penting sebagai pengingat arah pembangunan. Namun, pelaksana kebijakan di lapangan juga harus menghadapi kenyataan yang tidak sederhana, mulai dari keterbatasan anggaran, birokrasi yang panjang, kualitas sumber daya manusia yang belum merata, hingga tuntutan masyarakat yang terus berkembang.

“Persoalan terbesar pembangunan bukanlah perbedaan pendapat antara pemerintah dan pengkritik. Tantangan sesungguhnya adalah ketika daerah terjebak dalam stagnasi, ekonomi melambat, investasi berhenti, lapangan kerja menyempit, dan tidak ada keberanian melakukan terobosan,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan nyata yang juga dihadapi Kabupaten Berau. Selama bertahun-tahun, perekonomian daerah masih bertumpu pada sektor pertambangan, perkebunan, dan belanja pemerintah. Ketiga sektor tersebut memang menjadi penopang utama ekonomi, namun ketergantungan terhadap sektor primer juga menyimpan risiko besar.

Fluktuasi harga komoditas, keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah, serta meningkatnya jumlah pencari kerja setiap tahun menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.

“Kalau pola pembangunan tidak berubah, lima sampai sepuluh tahun ke depan tekanan terhadap ekonomi daerah akan semakin berat. Karena itu, Berau membutuhkan mesin pertumbuhan ekonomi baru, bukan sekadar menambah daftar program pembangunan,” ujarnya.

Salah satu peluang yang dinilai paling strategis adalah pengembangan hilirisasi sawit berbasis masyarakat. Selama ini sebagian besar hasil sawit masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah justru dinikmati daerah lain.

Padahal, Berau memiliki peluang mengembangkan industri minyak goreng lokal, pakan ternak berbahan limbah sawit, pupuk organik, hingga biomassa dan energi terbarukan.

“Hilirisasi bukan hanya meningkatkan nilai jual komoditas, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ekonomi masyarakat,” katanya.

Selain sektor perkebunan, Mupit juga menilai potensi pariwisata Berau masih jauh dari optimal. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada kawasan Kepulauan Derawan, padahal hampir seluruh kecamatan memiliki potensi wisata yang layak dikembangkan.

Bentang alam, sungai, budaya lokal, hutan tropis, hingga kuliner khas dinilai dapat menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dikembangkan berbasis masyarakat.

“Setiap kecamatan seharusnya memiliki destinasi unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal. Dengan begitu manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga nelayan, petani, pedagang kecil, hingga pelaku UMKM,” jelasnya.

Menurut Mupit, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga harus dipandang sebagai peluang ekonomi baru, bukan ancaman.

Berau memiliki kesempatan besar menjadi pemasok kebutuhan pangan, hasil perikanan, produk perkebunan, jasa konstruksi, tenaga kerja terampil, hingga paket wisata bagi masyarakat IKN.

“Tantangannya bukan ada atau tidaknya peluang. Peluangnya sudah terbuka. Yang diperlukan sekarang adalah kesiapan daerah membangun ekosistem usaha agar mampu masuk dalam rantai pasok IKN,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengubah paradigma pembangunan infrastruktur. Selama ini keberhasilan sering diukur dari banyaknya proyek fisik yang dibangun. Ke depan, menurutnya, ukuran keberhasilan harus bergeser pada dampak ekonomi yang dihasilkan.

“Infrastruktur harus mampu menurunkan biaya distribusi, mempercepat investasi, membuka akses pasar, dan menciptakan lapangan kerja. Kalau hanya menjadi bangunan fisik tanpa menggerakkan ekonomi, manfaatnya tidak akan maksimal,” katanya.

Hal serupa berlaku terhadap investasi. Ia menilai keberhasilan investasi tidak cukup dilihat dari besarnya nilai modal yang masuk ke daerah.

“Ukuran keberhasilan investasi adalah seberapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap, seberapa besar UMKM ikut terlibat, dan seberapa panjang rantai ekonomi yang tercipta bagi masyarakat,” tegasnya.

Berangkat dari berbagai tantangan tersebut, Mupit menawarkan sebuah gagasan pembangunan jangka panjang yang diberi nama “Berau Growth 2035”.

Konsep tersebut menempatkan lima sektor utama sebagai mesin pertumbuhan ekonomi daerah, yakni hilirisasi sawit dan pertanian, pariwisata berbasis komunitas, integrasi ekonomi dengan IKN, pembangunan infrastruktur produktif, serta investasi padat karya yang melibatkan UMKM.

Menurutnya, tujuan utama pembangunan bukan semata mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan menciptakan lebih banyak lapangan kerja, menjaga daya beli masyarakat, melahirkan kelas menengah baru, serta mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif.

“Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat melalui pekerjaan yang lebih banyak, pendapatan yang meningkat, dan kesempatan usaha yang semakin luas,” ujarnya.

Di akhir tulisannya, Mupit menegaskan bahwa Berau sesungguhnya tidak kekurangan gagasan maupun sumber daya manusia yang mampu membaca berbagai tantangan pembangunan.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengubah arah ketika pola pembangunan lama mulai kehilangan daya dorong. Dengan kekayaan sumber daya alam, posisi strategis di Kalimantan Timur, dan peluang besar dari pembangunan IKN, masa depan Berau masih sangat terbuka. Pertanyaannya bukan lagi apakah Berau mampu maju, tetapi apakah kita semua berani membangun mesin ekonomi baru yang menghadirkan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memberi harapan bagi lebih banyak keluarga di Bumi Batiwakkal,” pungkasnya. (*)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan