Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
DISKOMINFO BERAU

Mesin Pembakar Sampah Ramah Lingkungan Diluncurkan Pemkab Berau

ZonaTV
27
×

Mesin Pembakar Sampah Ramah Lingkungan Diluncurkan Pemkab Berau

Sebarkan artikel ini
595cdcee 1000496192 11zon

TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau mulai melirik teknologi baru untuk mengurai persoalan klasik: penumpukan sampah. Lewat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), sebuah incinerator ramah lingkungan resmi diuji coba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Batu.

Perangkat yang digadang-gadang menjadi “mesin pembakar tanpa beban” itu mampu mengolah hingga satu ton sampah per hari tanpa setetes pun bahan bakar minyak (BBM) dan tanpa sokongan listrik. Sampah menjadi energinya sendiri.

Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana, menyebut teknologi ini sebagai terobosan paling realistis untuk kampung-kampung yang selama ini kesulitan mengelola sampah lantaran minim sarana prasarana.

“Alat ini tidak membutuhkan BBM atau listrik. Pembakarannya memanfaatkan sampah yang mudah terbakar, sehingga bisa beroperasi secara mandiri,” ujar Mustakim.

Klaim Tanpa Asap Berbahaya

Incinerator itu disebut telah dirancang dengan sistem penyaringan emisi yang memungkinkan gas hasil pembakaran tetap dalam batas aman baku mutu lingkungan. DLHK memastikan tidak ada asap pekat yang menggantung di udara sekitar.

Bagi daerah seperti Berau, yang sebagian wilayahnya berada di pesisir dan kepulauan, teknologi ini dianggap bisa menjadi jawaban persoalan sampah yang menahun. Karena itu, TPA Tanjung Batu dijadikan proyek percontohan sebelum nantinya diadopsi kampung-kampung lain seperti Pulau Derawan dan Maratua.

“Kami optimistis jika tiap kampung memiliki alat ini, pengelolaan sampah akan jauh lebih efektif. Pembiayaannya juga memungkinkan, karena bisa dianggarkan melalui APBK masing-masing,” kata Mustakim.

Biaya Rp 500 Juta, Operator Tiga Orang

Satu unit incinerator lengkap dengan fasilitas pendukung membutuhkan anggaran sekitar Rp 500 juta. Soal operasionalnya, Mustakim menyebut hanya memerlukan tiga operator.

Namun sebelum masuk tungku pembakaran, sampah perlu dipilah lebih dulu. Plastik dan material bernilai ekonomi tetap dijual. Sampah residu—yang tak bisa dimanfaatkan—dibakar.

Abu hasil pembakaran bahkan tidak berujung di TPA. DLHK membuka peluang agar limbah itu dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan paving block.

“Ini bentuk nyata dari konsep sirkular ekonomi. Tidak ada yang benar-benar terbuang,” ujarnya.

Sosialisasi Massal Menyambut Hari Lingkungan Hidup

Dalam waktu dekat, DLHK akan mengundang seluruh kepala kampung bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sosialisasi penggunaan incinerator akan menjadi agenda utama.

Menurut Mustakim, langkah itu menjadi strategi penting. Mengandalkan DLHK saja tidak akan cukup untuk menuntaskan persoalan sampah yang terus tumbuh dari hulu hingga hilir.

“Masalah sampah terlalu besar kalau hanya dibebankan pada DLHK. Peran aktif kampung sangat diperlukan. Karena itu kami ingin kampung mandiri dalam menangani sampahnya,” tuturnya.

Dengan teknologi baru ini, Pemkab Berau berharap bisa menutup era TPA yang kian sesak dan membuka babak baru pengelolaan sampah yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan