Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
Pemkab Berau

ISPA Melonjak Tiga Kali Lipat, Gamalis Soroti Dampak Asap Karhutla di Berau

ZonaTV
21
×

ISPA Melonjak Tiga Kali Lipat, Gamalis Soroti Dampak Asap Karhutla di Berau

Sebarkan artikel ini
6c32008b img 20260904 wa0013
Foto: Gamalis Meninjau Puskesmas (Doc.Spesial)

TANJUNG REDEB – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Berau mulai meninggalkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat. Paparan asap yang terus menyelimuti sejumlah kawasan turut memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Berau. Wakil Bupati Berau, Gamalis, turun langsung meninjau pelayanan kesehatan di Puskesmas Tanjung Redeb dan Puskesmas Kampung Bugis, Kamis (3/9/2026).

 

Peninjauan dilakukan untuk memastikan pelayanan tetap berjalan optimal sekaligus melihat perkembangan penyakit yang diduga berkaitan dengan memburuknya kualitas udara akibat karhutla.

 

Dari hasil pemantauan, Gamalis mengungkapkan adanya lonjakan kasus ISPA yang cukup signifikan. Penyakit tersebut yang sebelumnya hanya masuk jajaran 10 besar kasus penyakit kini telah merangsek ke posisi kedua, berada di bawah hipertensi.

 

“ISPA ini yang tadinya berada di 10 besar, rangking ke-9 atau ke-8, hari ini sudah menjadi rangking ke-2 setelah hipertensi. Perkembangannya sudah tiga kali lipat,” ungkap Gamalis.

 

Menurutnya, peningkatan kasus telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir dan semakin menjadi perhatian memasuki awal September. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi karena paparan asap karhutla dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

 

“Dengan kondisi kebakaran, takutlah. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu efek dari kebakaran tersebut. Efeknya tentu beragam, salah satunya penyakit ISPA,” tegasnya.

 

PM2.5 Tinggi, Bahkan di Dalam Ruangan

 

Tak hanya menyoroti jumlah pasien, Gamalis juga memberi perhatian terhadap kualitas udara di fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengukuran Dinas Kesehatan, kadar partikulat halus PM2.5 di dalam ruangan disebut berada di atas rata-rata.

 

Gamalis menjelaskan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat melewati mekanisme penyaringan alami pada hidung dan masuk hingga ke paru-paru.

 

“PM2.5 itu adalah partikel yang masuk ke dalam hidung, yang tidak bisa disaring oleh bulu hidung. Dia langsung ke paru-paru. Dan ini di dalam ruangan,” jelasnya.

 

Kondisi tersebut, menurut Gamalis, tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah perlu memastikan masyarakat mendapat perlindungan, terutama ketika kualitas udara masih terdampak asap karhutla.

 

Kasus ISPA saat ini juga banyak ditemukan pada anak-anak dan ibu hamil. Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.

 

“Kami imbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau pun harus keluar, agar kiranya dapat menggunakan masker,” pesannya.

 

Stok Obat dan Oksigen Dipastikan Aman

 

Mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien, Pemkab Berau juga melakukan pemantauan terhadap ketersediaan obat-obatan dan peralatan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Dokter Umum Puskesmas Tanjung Redeb, dr. Nina Damayanti Madjid, memastikan stok obat dan alat kesehatan sejauh ini masih mencukupi untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.

 

“Untuk sementara, Alhamdulillah, kondisi untuk obat-obatan masih tersedia dan masih ter-cover. Tapi nanti kalau memang kita butuh, kita biasanya akan berasuran,” ujarnya.

 

Tak berhenti di puskesmas, Gamalis kemudian melanjutkan pemantauan ke salah satu distributor oksigen medis di Tanjung Redeb.

 

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan oksigen tetap aman di tengah meningkatnya kasus gangguan pernapasan dan kondisi karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Berau.

 

Hasil pemantauan menunjukkan ketersediaan oksigen medis saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Berau.

 

“Kita ingin memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan tetap aman. Dari hasil pemantauan, untuk oksigen masih cukup dan bisa memasok kebutuhan sejumlah pelayanan kesehatan,” ujarnya.

 

Gamalis menegaskan, pemerintah tidak ingin menunggu sampai terjadi lonjakan kebutuhan baru mengambil tindakan. Pemantauan stok dan koordinasi antara pemerintah, distributor, serta fasilitas kesehatan harus dilakukan sejak dini.

 

“Kita tidak ingin menunggu sampai kebutuhan meningkat baru melakukan langkah. Karena itu, dari sekarang kita pastikan ketersediaannya,” tambahnya.

 

Dengan meningkatnya kasus ISPA hingga tiga kali lipat, Pemkab Berau kini tidak hanya menghadapi persoalan karhutla dari sisi lingkungan, tetapi juga dampak kesehatan yang mulai dirasakan masyarakat. Kesiapsiagaan layanan kesehatan dan perlindungan masyarakat menjadi langkah penting selama kualitas udara belum kembali normal.(Adv/Zen)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan