TANJUNG SELOR – Sejumlah ruas jalan di Tanjung Selor sempat tergenang air dalam beberapa hari terakhir. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bulungan memastikan kondisi tersebut belum mengindikasikan ancaman banjir besar dari Sungai Kayan.
Analis Kebencanaan BPBD Bulungan, Najamudin, menjelaskan, hasil pemantauan di wilayah hulu menunjukkan tren muka air Sungai Kayan justru terus menurun. Di Kecamatan Peso, ketinggian air yang sebelumnya sempat naik hingga sekitar lima meter kini telah turun menjadi sekitar tiga meter.
“Kalau melihat perkembangan dari hulu, kenaikannya langsung turun lagi. Artinya limpasan air ke wilayah Tanjung Selor tidak terlalu signifikan,” ujarnya, Kamis (2/7).
Menurut Najamudin, kondisi tersebut masih jauh dari kategori yang perlu diwaspadai secara serius. BPBD baru akan meningkatkan status kewaspadaan apabila tinggi muka air di titik pantau mencapai kisaran sembilan hingga 12 meter. Saat ini, Sungai Kayan masih berada pada status siaga.
Ia menegaskan, genangan yang terjadi di sejumlah ruas jalan di Tanjung Selor bukan sepenuhnya dipicu luapan Sungai Kayan. Faktor pasang air laut justru menjadi penyebab utama di beberapa kawasan karena menghambat aliran air menuju sungai.
“Beberapa daerah memang langganan terdampak pasang laut, bukan karena banjir kiriman dari hulu. Jadi masyarakat jangan langsung menyimpulkan semua genangan berasal dari luapan sungai,” jelasnya.
Wilayah yang kerap mengalami genangan akibat pasang laut di antaranya Salimbatu, Teras Nawang, Tengkapak, hingga sebagian kawasan Selimau. Tinggi genangan di daerah tersebut sangat bergantung pada kondisi pasang surut air laut.
BPBD mencatat, tinggi muka air normal Sungai Kayan berada di kisaran dua hingga tiga meter. Pemantauan debit air masih dilakukan secara rutin menggunakan papan ukur yang dipasang di beberapa titik, seperti kawasan Kayan II, serta melalui jaringan pos pemantauan di wilayah hulu.
Selain memantau tinggi muka air, BPBD juga mengamati karakteristik aliran sungai. Banyaknya kayu hanyut biasanya berasal dari aliran Sungai Bahau, sedangkan perubahan warna air maupun munculnya buih menjadi indikator asal limpasan yang masuk ke Sungai Kayan.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, tren muka air di wilayah hulu terus menunjukkan penurunan. Kondisi ini membuat potensi banjir besar dalam waktu dekat dinilai masih rendah.
Meski demikian, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan pasang air laut yang sewaktu-waktu dapat memicu genangan, terutama di kawasan dataran rendah.
“Perubahan cuaca dan pasang laut masih dapat menyebabkan genangan di beberapa titik. Kondisi sekarang masih aman dan statusnya masih siaga. Kami terus memantau perkembangan debit air. Jika ada perubahan yang mengarah pada kondisi darurat, tentu akan segera kami sampaikan kepada masyarakat,” tegas Najamudin.(Rdi)












