Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
BeritaKaltim

BPS Catat Penduduk Miskin Kaltim Berkurang 1,40 Ribu Orang, Namun Kemiskinan Pedesaan Naik 0,18 Poin

ZonaTV
13
×

BPS Catat Penduduk Miskin Kaltim Berkurang 1,40 Ribu Orang, Namun Kemiskinan Pedesaan Naik 0,18 Poin

Sebarkan artikel ini
045565be img 20260818 wa0054
Foto: Illustrasi (Zenn-Zona)

SAMARINDA – Angka kemiskinan di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 sebesar 5,14 persen, turun 0,05 poin persentase dibandingkan September 2025 yang mencapai 5,19 persen.

 

Jika dibandingkan dengan Maret 2025, tingkat kemiskinan Kaltim juga menurun 0,03 poin persentase. Secara jumlah, penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebanyak 200,64 ribu orang, berkurang sekitar 1,40 ribu orang dibandingkan September 2025.

 

Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengatakan posisi Kaltim masih relatif baik jika dibandingkan dengan angka kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan Indonesia tercatat sebesar 8,07 persen.

 

“Bila kita lihat perbandingan antarprovinsi terkait angka kemiskinan, terlihat bahwa angka kemiskinan terendah di Indonesia ada di Provinsi Bali dengan persentase sebesar 3,44 persen,” kata Mas’ud dalam keterangan resminya.

 

Sementara itu, Papua Tengah menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yakni mencapai 30,41 persen. Dengan angka 5,14 persen, tingkat kemiskinan Kaltim masih berada cukup jauh di bawah rata-rata nasional.

 

Kemiskinan Desa Justru Naik

 

Di balik penurunan angka kemiskinan secara umum, BPS mencatat persoalan yang masih perlu mendapat perhatian, yakni kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

 

Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perkotaan Kaltim berada di angka 4,15 persen. Sementara di pedesaan, angkanya mencapai 7,42 persen.

 

Kondisi tersebut juga menunjukkan tren yang berbeda. Dibandingkan September 2025, tingkat kemiskinan di perkotaan turun 0,16 poin persentase. Sebaliknya, kemiskinan di pedesaan justru meningkat 0,18 poin persentase.

 

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan sedikit mengalami penurunan, sedangkan tingkat kemiskinan penduduk di pedesaan sedikit mengalami kenaikan,” jelas Mas’ud.

 

Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan kemiskinan Kaltim belum sepenuhnya merata. Wilayah pedesaan masih menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan perkotaan.

 

Garis Kemiskinan Naik 4,22 Persen

 

Di sisi lain, kebutuhan minimum untuk memenuhi standar hidup juga mengalami peningkatan. BPS mencatat garis kemiskinan Kaltim naik 4,22 persen dalam periode September 2025 hingga Maret 2026.

 

Garis kemiskinan yang sebelumnya berada di angka Rp897.759 per kapita per bulan pada September 2025, meningkat menjadi Rp935.662 per kapita per bulan pada Maret 2026.

 

Artinya, batas pengeluaran yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang masuk kategori miskin semakin tinggi seiring meningkatnya kebutuhan hidup.

 

Komponen makanan masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan. Pada Maret 2026, komoditas makanan memberikan kontribusi 70,26 persen, sedangkan komoditas bukan makanan menyumbang 29,74 persen.

 

Meski persentase kemiskinan Kaltim menurun, data BPS menunjukkan pekerjaan rumah pemerintah daerah masih cukup besar. Selain mempertahankan tren penurunan kemiskinan, pengendalian kenaikan biaya kebutuhan dasar dan pengurangan kesenjangan antara desa dan kota menjadi tantangan penting ke depan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan