BERAU — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau yang kerap menggaungkan sektor pariwisata sebagai masa depan ekonomi daerah kini mendapat perhatian dari dalam internal pemerintahan. Upaya pengembangan destinasi wisata dinilai masih belum sempurna dan belum mampu digarap secara maksimal untuk menarik minat wisatawan luar daerah maupun mancanegara.
Staf Ahli Pembangunan dan Ekonomi Kabupaten Berau, Andi Marewangeng, membenarkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara narasi besar pemkab dengan realita yang terjadi di lapangan.
Ia menyebut bahwa pemkab saat ini belum benar-benar siap dengan produk wisata yang matang.
“Saya setuju pariwisata adalah masa depan ekonomi Berau. Tapi kita harus jujur, saat ini kita masih jual ‘potensi’, bukan ‘produk’,” tegas Andi Marewangeng pengembangan destinasi wisata lokal, Selasa (14/7/2026).
Menurut analisisnya, hambatan utama yang membuat pariwisata Berau sulit melesat mencakup tiga aspek mendasar, yakni persoalan aksesibilitas, kesiapan fasilitas penunjang, serta efektivitas promosi.
Destinasi unggulan Berau yang selama ini dibanggakan justru masih sulit dijangkau akibat ongkos yang tinggi dan waktu tempuh yang lama.
“Masalah utamanya 3: Akses, Amenitas, dan Promosi. Banyak destinasi kita bagus seperti Derawan, Biduk-biduk, Sangkulirang Mangkalihat Geopark, tapi akses masih mahal dan lama. Homestay, toilet, sinyal juga belum merata,” ungkap Andi.
Guna mengatasi persoalan ini, Andi menyarankan agar pemkab segera mengubah strategi pembangunan wisatanya.
Mencoba membangun semua tempat sekaligus dengan hasil yang setengah-setengah, pemerintah daerah dituntut untuk lebih fokus pada skala prioritas dan melibatkan kekuatan ekonomi tingkat desa secara nyata.
“Solusinya: jangan kembangkan semua sekaligus. Fokus dulu 3-5 destinasi unggulan, benahi akses + fasilitas dasarnya, lalu dorong wisatawan lewat event dan digital marketing. Libatkan masyarakat dan BUMDes supaya dampak ekonominya langsung ke warga. Kalau infrastrukturnya beres, wisatawan luar pasti datang,” pungkasnya.












