TANJUNG SELOR – Investigasi awal kebakaran speedboat Sekatak AAA yang melayani rute Tanjung Selor–Tarakan mulai mengungkap titik persoalan. Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kayan II Tanjung Selor menduga kebakaran dipicu gangguan pada sistem kelistrikan yang kemudian berdampak pada bagian generator kapal.
Peristiwa itu terjadi Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 11.15 WITA di perairan SP 5, Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Saat kejadian, speedboat tengah membawa penumpang dalam perjalanan dari Tanjung Selor menuju Tarakan.
Kepala KUPP Kayan II Tanjung Selor, Ujang Sunardi, mengatakan dugaan tersebut diperoleh setelah pihaknya melakukan pemeriksaan awal terhadap kapal serta meminta keterangan dari nakhoda dan kru.
Dari pemeriksaan sementara, diketahui sistem kelistrikan kapal sempat mengalami gangguan. Televisi dan pendingin udara (AC) di dalam kabin dilaporkan mati sebelum api muncul di sekitar bagian generator yang menggunakan bahan bakar bensin.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal. Bermula dari korsleting yang menyebabkan televisi dan AC mati, kemudian terjadi di bagian generator berbahan bakar bensin sehingga menyebabkan kebakaran,” ujar Ujang dalam konferensi pers (10/08/2026)
Namun, ia menegaskan hasil tersebut belum merupakan kesimpulan akhir. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan rangkaian penyebab kebakaran, termasuk kondisi generator dan konstruksi dudukannya.
Hasil pemeriksaan selanjutnya akan disampaikan kepada Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Proses tersebut kemudian menjadi bagian dari bahan pemeriksaan Mahkamah Pelayaran dalam menentukan kesimpulan atas insiden tersebut.
“Ini masih pemeriksaan pertama. Kami akan segera menyelesaikan pemeriksaan tahap berikutnya agar penyebab kebakaran bisa diketahui secara lebih jelas,” katanya.
Generator dan Konstruksi Kapal Dievaluasi
Selain gangguan kelistrikan, posisi generator menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian KUPP Kayan II. Dari pemeriksaan, generator diketahui berada pada dudukan yang menyatu dengan badan kapal.
Ujang menilai konstruksi tersebut perlu dievaluasi dari perspektif keselamatan. KUPP Kayan II merekomendasikan agar dudukan generator tidak bersentuhan langsung dengan badan kapal dan diberikan lapisan pemisah berupa plat.
Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi risiko panas maupun gangguan dari generator langsung mengenai konstruksi badan kapal.
“Kami merekomendasikan dudukan mesin generator dipisahkan dari badan kapal dan dipasang plat, sehingga tidak terjadi sentuhan langsung. Jadi, panas atau gangguan dari generator tidak langsung mengenai body kapal,” jelasnya.
Rekomendasi tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan instansi terkait, termasuk KSOP Tarakan. Evaluasi dinilai penting karena penggunaan generator berbahan bakar bensin juga terdapat pada sejumlah speedboat yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Kami akan koordinasikan dengan pusat dan KSOP Tarakan. Kami akan evaluasi kenapa kapal ini bisa cepat terbakar, salah satunya dari posisi dudukan generator yang menyatu dengan badan kapal,” ujarnya.
Dalam insiden tersebut, sejumlah komponen kapal, termasuk mesin, berhasil diselamatkan. Namun, badan speedboat mengalami kerusakan berat akibat kobaran api.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi KUPP Kayan II, khususnya terhadap aspek keselamatan yang berkaitan dengan instalasi kelistrikan, penempatan generator, serta perlindungan terhadap konstruksi badan kapal.
Kelalaian Masih Didalami
Mengenai kemungkinan adanya unsur kelalaian, Ujang menyatakan belum dapat memberikan kesimpulan. Seluruh tahapan pemeriksaan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum faktor penyebab maupun kemungkinan kelalaian dapat ditentukan.
“Soal kelalaian, nanti akan kami dalami bersama Direktorat KPLP. Pemeriksaan harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum kita mengambil kesimpulan,” tegasnya.
Di tengah proses pemeriksaan tersebut, Ujang mengingatkan operator speedboat agar menjadikan insiden Sekatak AAA sebagai momentum memperkuat budaya keselamatan pelayaran.
Pengecekan mesin, instalasi kelistrikan, generator, hingga seluruh peralatan pendukung perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum kapal beroperasi. Menurutnya, aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama karena risiko kecelakaan di perairan tidak hanya menyangkut kerugian material, tetapi juga keselamatan dan kondisi psikologis penumpang.
“Kami mengimbau kepada penumpang dan pemilik speedboat agar kejadian ini menjadi pelajaran. Khusus operator, kami minta lebih tertib dan mengutamakan keselamatan agar tidak menimbulkan trauma bagi penumpang dan kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.












