Tanjung Redeb — Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah pesisir Kabupaten Berau tersendat saat lonjakan kunjungan wisata. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan kehabisan stok, bahkan sempat tutup, sehingga menghambat mobilitas warga dan wisatawan.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, mengatakan keluhan datang dari masyarakat di Talisayan, Batu Putih, hingga Biduk-biduk. Menurut dia, kondisi tersebut berulang dan seharusnya dapat diantisipasi sejak awal.
“Ada SPBU yang kosong, bahkan sempat tutup. Itu sangat mengganggu, apalagi di tengah lonjakan wisatawan seperti kemarin,” kata Sutami.
Keterbatasan pasokan, menurut dia, tak hanya mengganggu pergerakan, tetapi juga mendorong kenaikan harga BBM di tingkat pengecer. Situasi ini dinilai merugikan wisatawan dan berpotensi merusak citra pariwisata daerah.
“Kalau distribusi tidak lancar, harga di lapangan bisa melonjak. Kasihan pengunjung juga,” ujarnya.
Sutami menilai pola lonjakan wisata pada musim libur merupakan kejadian tahunan yang seharusnya sudah diperhitungkan. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah memperbaiki tata kelola distribusi BBM, terutama menjelang periode libur panjang.
Ia mendorong koordinasi lebih intensif antara Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan, PT Pertamina Patra Niaga, serta pengelola SPBU untuk memastikan pasokan tetap terjaga di kawasan wisata.
“Ini harus jadi perhatian serius. Jangan sampai setiap ada lonjakan wisata, masalahnya itu-itu saja,” kata dia.
Menurut Sutami, kelancaran distribusi BBM merupakan bagian dari infrastruktur dasar pariwisata. Tanpa dukungan itu, kenyamanan wisatawan akan terganggu dan berisiko menurunkan minat kunjungan.
“Kalau mau pariwisata kita maju, hal-hal dasar seperti ini harus benar-benar dipastikan. Jangan sampai wisatawan datang, tapi justru kesulitan BBM,” tutupnya.













