Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
SamarindaPeristiwa

Bertahan dengan Sepatu Lama, Pelajar Samarinda Meninggal Usai Alami Pembengkakan

ZonaTV
24
×

Bertahan dengan Sepatu Lama, Pelajar Samarinda Meninggal Usai Alami Pembengkakan

Sebarkan artikel ini
25fbb21a img 20260430 wa0005

SAMARINDA — Seorang pelajar SMK di Samarinda, Mandala (16), meninggal dunia setelah mengalami sakit yang diduga berawal dari penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi sorotan terkait kondisi ekonomi keluarga dan akses terhadap kebutuhan dasar.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengungkapkan pihaknya menerima laporan pada 25 April 2026 mengenai seorang pelajar yang meninggal dunia dan sempat disalatkan di sekolah. Tim kemudian mendatangi rumah duka untuk memastikan kondisi keluarga.

Dari hasil penelusuran, diketahui Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama satu kakak dan tiga adiknya. Ibunya bekerja sebagai penjual risoles keliling dengan penghasilan terbatas.

Rina menjelaskan, sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun seiring pertumbuhan, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Karena keterbatasan ekonomi, sepatu lama tetap digunakan dengan cara dimodifikasi menggunakan busa agar terasa lebih longgar.

“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina.

Kondisi tersebut diperparah saat Mandala menjalani kegiatan magang di pusat perbelanjaan yang mengharuskannya berdiri dalam waktu lama. Selama sekitar satu bulan, keluhan nyeri di kaki semakin memburuk dan menjalar hingga ke pinggang dan kepala.

Ibu korban, Ratnasari, menuturkan bahwa awalnya anaknya hanya mengeluhkan sakit ringan. Namun, dalam waktu sekitar tiga minggu, pembengkakan mulai terlihat dan rasa sakit semakin intens.

“Kurang lebih dua minggu pertama belum ada bengkak. Setelah sekitar 20 hari, bagian atas kaki mulai membesar,” katanya, Kamis (30/4/2026).

Meski sakit, Mandala tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk magang. Ia lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat. Keluhan biasanya disampaikan setelah pulang ke rumah.

Sehari sebelum meninggal dunia, kondisi Mandala semakin memburuk. Pembengkakan di kaki terlihat parah. Ia sempat mendapatkan penanganan berupa suntikan di sekitar lingkungan tempat tinggal.

“Setelah disuntik, dia bilang sudah tidak terlalu sakit. Kami kira membaik,” ujar Ratnasari.

Namun, pada Jumat (24/4/2026), Mandala meninggal dunia. Menurut keterangan keluarga, malam sebelum wafat, ia sempat menyampaikan keinginan terakhir untuk memiliki sepatu baru. Permintaan itu belum dapat dipenuhi.

“Dia bilang ingin sepatu untuk terakhir kalinya. Tapi saya tidak bisa membelikan,” tutur Ratnasari.

Meski menghadapi keterbatasan, proses pemulasaran hingga pemakaman disebut mendapat bantuan dari pihak sekolah, termasuk fasilitas ambulans.

Peristiwa ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk TRC PPA Kaltim, yang menilai kasus tersebut mencerminkan masih adanya kerentanan sosial di masyarakat, khususnya terkait akses terhadap kebutuhan dasar dan layanan kesehatan.

Keluarga berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap masyarakat kurang mampu, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan