TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau tengah menggeber pengembangan industri hilir kelapa sawit. Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, menegaskan, saat ini fokus pemerintah tidak lagi sebatas menghasilkan Crude Palm Oil (CPO), tetapi juga mendorong pengolahan menjadi produk jadi di dalam daerah.
“Ini momentum bagus untuk mendorong industri hilir,” kata Lita saat ditemui di kantornya. Ia menambahkan, seluruh CPO yang dihasilkan di Berau selama ini sebagian besar masih dikirim keluar daerah tanpa diolah lebih lanjut.
Berau sendiri tercatat memiliki 14 pabrik sawit. Melalui kebijakan daerah, Disbun akan memfasilitasi pengembangan fasilitas pengolahan lokal, mulai dari minyak goreng hingga produk turunan lainnya. Sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2020, 70 persen CPO yang dihasilkan di Berau wajib diolah di dalam daerah.
Menurut data terbaru, sektor perkebunan sawit menyumbang 7,66 persen dari total PDRB bidang pertanian Berau pada 2024, naik dari 6,6 persen tahun sebelumnya. Meski sektor tambang masih mendominasi dengan kontribusi sekitar 60 persen, sawit menunjukkan perkembangan positif sebagai alternatif penggerak ekonomi lokal.
Lita menilai, dibandingkan tambang, ekspansi perkebunan sawit memiliki dampak lingkungan yang lebih cepat pulih, sehingga dianggap lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah juga tengah aktif menjajaki kerja sama dengan calon investor untuk mendirikan fasilitas pengolahan sawit di Berau, termasuk pembangunan pabrik minyak goreng di kawasan Kiani. Namun, hingga kini izin resmi belum dikeluarkan.
“Sejalan dengan Perpres ISPO, kami akan terus memacu percepatan sertifikasi untuk petani sawit serta legalisasi lahan melalui Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB),” ujar Lita menutup perbincangan.
Dengan langkah ini, Berau berharap tidak hanya menjadi produsen sawit, tetapi juga pengolah yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal. (adv)












