TANJUNG SELOR —Beredarkakn Isu yang mengaitkan masyarakat Suku Dayak dengan peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi perbincangan publik. Sejumlah narasi yang beredar di media sosial bahkan menyebut tradisi membuka lahan untuk berladang sebagai salah satu penyebab terjadinya karhutla.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Utara, Ingkong Ala, menegaskan bahwa tidak tepat jika Suku Dayak secara keseluruhan dikaitkan atau dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas karhutla yang terjadi.
Menurut Ingkong, saat ini memang banyak masyarakat yang tengah melakukan pembukaan lahan untuk kebutuhan berladang. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Dayak yang telah dilakukan secara turun-temurun. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menuduh Suku Dayak sebagai pelaku karhutla.
“Saat ini memang kebanyakan warga sedang membuka lahan untuk berladang,” ungkap Ingkong.
Ia juga menjelaskan, sejumlah titik karhutla yang terjadi saat ini berada di kawasan gambut, dataran, maupun perkebunan yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap kebakaran, terutama saat kondisi kemarau.
“Jadi, tuduhan yang mengaitkan Suku Dayak dengan karhutla tersebut juga tidak benar,” tegasnya.
Ingkong mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial, terlebih informasi yang membawa-bawa identitas suku dalam persoalan karhutla. Menurutnya, penanganan karhutla seharusnya menjadi tanggung jawab bersama tanpa menggeneralisasi kelompok atau masyarakat tertentu.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu meluasnya kebakaran.
“Percuma juga membakar lahan di musim kemarau saat ini. Yang ada, lahan terbakar dan belum tentu bisa ditanami,” pungkasnya.(Rdi)












