BERAU – Kritik keras dilontarkan Ketua BPC HIPMI Berau, Tony Suprayugo, terhadap perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Berau, khususnya PT Berau Coal. Ia menilai perusahaan besar di sektor batu bara selama ini menikmati kekayaan alam daerah, namun minim melibatkan pengusaha lokal dalam rantai bisnis maupun pengambilan peran ekonomi di daerah sendiri.
Tony mengatakan, hingga kini ruang koordinasi antara perusahaan tambang dan pelaku usaha lokal masih sangat terbatas. Bahkan, menurutnya, perusahaan-perusahaan besar cenderung berjalan sendiri tanpa membuka komunikasi yang sehat dengan pengusaha daerah.
“Selama ini perusahaan-perusahaan di Berau tidak menghargai atau tidak pernah ada berkoordinasi. Termasuk perusahaan yang paling besar, Berau Coal,” ujarnya saat ditemui, Rabu (20/5/2026).
Ia menegaskan, perusahaan tambang seharusnya tidak hanya berfokus pada aktivitas eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga memiliki komitmen nyata dalam memberdayakan ekonomi lokal. Keterlibatan pengusaha daerah, kata dia, semestinya menjadi bagian penting dari ekosistem industri pertambangan di Berau.
“Perusahaan batu bara di Berau itu harus menggandeng perusahaan-perusahaan lokal. Tapi yang kita lihat selama ini justru seperti tutup mata,” katanya.
Kekecewaan tersebut semakin menguat di tengah kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang terjadi di lingkungan SITE BUMA. Menurut Tony, kondisi itu menjadi alarm bahwa daerah penghasil sumber daya alam tidak boleh hanya menjadi tempat pengerukan hasil bumi tanpa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.
Ia bahkan menyebut Berau perlahan mulai menyerupai daerah kaya sumber daya yang masyarakatnya hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
“Hari ini eksploitasi bumi kita terus berjalan. Tapi apa hasilnya untuk Kabupaten Berau?” ucapnya.
Tony juga mempertanyakan kontribusi konkret perusahaan tambang terhadap daerah, mulai dari realisasi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluang usaha bagi pelaku lokal, hingga keberadaan putra daerah yang benar-benar dibina dan tumbuh menjadi pengusaha kuat melalui dukungan industri tambang.
“CSR-nya berapa? Apa yang dikasih ke Berau? Putra daerah mana yang mereka bikin berkembang?” tegasnya.
Menurut dia, HIPMI Berau bersama kalangan pengusaha muda akan mulai mengambil langkah koordinasi untuk menyikapi persoalan tersebut. Upaya komunikasi dengan pihak PT Berau Coal, termasuk dengan salah satu pihak yang disebut bernama Rudini, diakui sempat dilakukan. Namun hingga kini, ia menilai ruang dialog belum benar-benar terbuka.
“Kami sudah coba berkomunikasi, tapi memang belum ada ruang yang terbuka,” ujarnya.
Sementara itu, tim redaksi IT-NEWS.ID telah berupaya menghubungi pihak PT Berau Coal guna meminta tanggapan terkait kritik yang disampaikan HIPMI Berau. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban maupun pernyataan resmi dari pihak perusahaan.
dilansir dari IT-NEWS.ID












