TANJUNG REDEB – Dinas Kesehatan Kabupaten Berau menegaskan bahwa seseorang yang telah mendapatkan imunisasi campak masih memiliki kemungkinan tertular penyakit tersebut. Namun demikian, gejala yang dialami umumnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan mereka yang belum pernah menerima vaksin.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Berau, Tuty Handayanie, menjelaskan bahwa tujuan utama imunisasi adalah membentuk kekebalan tubuh terhadap virus, sehingga tubuh dapat merespons lebih cepat saat terjadi paparan.
“Orang yang sudah vaksin memang masih bisa tertular, tetapi tingkat keparahannya biasanya lebih ringan. Tujuan vaksin itu untuk membentuk imunitas, bukan berarti seseorang sama sekali tidak bisa terkena penyakit,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan, ketika seseorang telah menerima vaksin, tubuh sudah memiliki antibodi yang mampu mengenali virus. Jika virus campak masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan bereaksi lebih cepat sehingga proses penyembuhan biasanya berlangsung lebih singkat.
Selain itu, individu yang telah divaksin juga memiliki potensi penularan yang lebih rendah kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang belum pernah mendapatkan imunisasi memiliki risiko lebih besar untuk menularkan virus ke lingkungan sekitarnya.
“Kalau sudah vaksin, potensi menularkan ke orang lain lebih rendah. Tetapi kalau tidak vaksin, penularannya bisa sangat mudah,” katanya.
Tuty menambahkan, risiko komplikasi hingga kematian akibat campak juga jauh lebih kecil pada orang yang telah menerima imunisasi. Berdasarkan data kesehatan, sebagian besar kasus kematian akibat campak terjadi pada individu yang belum pernah divaksin.
“Kalau yang sudah vaksin, risiko kematian hampir tidak ada. Sedangkan pada yang tidak divaksin memang ada kemungkinan itu terjadi,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun lalu di Kabupaten Berau tidak ditemukan kasus campak yang berujung pada kematian. Bahkan, kasus campak positif juga tidak tercatat.
Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap. Menurutnya, vaksinasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membantu menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, perbedaan kondisi antara orang yang telah diimunisasi dan yang belum cukup signifikan. Pada individu yang sudah divaksin, kemungkinan tertular tergolong lebih kecil dengan gejala yang umumnya ringan, demam lebih singkat, serta ruam campak yang lebih sedikit dan cepat hilang. Risiko komplikasi, rawat inap, hingga kematian juga sangat rendah.
Sebaliknya, pada individu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi, risiko tertular sangat tinggi dengan gejala yang lebih berat. Demam biasanya lebih tinggi dan berlangsung lebih lama, ruam lebih luas, serta kemungkinan komplikasi lebih sering terjadi.
Selain itu, proses pemulihan pada penderita yang belum divaksin cenderung lebih lama dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Campak sendiri dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular. Satu orang yang terinfeksi bahkan dapat menularkan virus kepada sekitar 12 hingga 18 orang lainnya jika mereka tidak memiliki kekebalan tubuh. Karena itu, imunisasi dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit tersebut. (*)












