BERAU – Fenomena anak-anak yang berjualan di jalanan di Kabupaten Berau belakangan menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai kondisi tersebut mengganggu ketertiban serta dikhawatirkan merampas hak anak yang seharusnya masih menikmati masa bermain dan pendidikan.
Menanggapi hal itu, Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah, menilai bahwa masyarakat perlu memahami terlebih dahulu latar belakang anak-anak tersebut sebelum memberikan penilaian.
Menurutnya, tidak semua anak yang terlihat berjualan di jalan dapat langsung dikategorikan sebagai pekerja anak. Dalam beberapa kasus, aktivitas tersebut justru dilakukan sebagai bentuk pembelajaran dari orang tua agar anak terbiasa mandiri.
“Kita perlu mengetahui dulu versinya. Ada anak yang berjualan sebagai latihan dari orang tuanya supaya ketika dewasa nanti dia sudah terbiasa. Selama hak-haknya sebagai anak tetap terpenuhi, sebenarnya tidak menjadi masalah,” ujarnya Jumat (06/03/2026).
Rabiatul menjelaskan, selama anak tetap mendapatkan hak utama seperti pendidikan, waktu istirahat, serta tidak dipaksa untuk bekerja, aktivitas membantu orang tua berjualan masih bisa ditoleransi. Bahkan, menurutnya, sebagian anak memilih membantu berjualan setelah pulang sekolah untuk mendapatkan tambahan uang jajan.
“Misalnya setelah pulang sekolah dia membantu jualan. Daripada hanya bermain, dia memilih membantu orang tuanya dan mendapatkan uang jajan. Itu tidak masalah selama tidak ada paksaan dan hak-haknya tetap terpenuhi,” jelasnya.
Namun demikian, pihaknya menegaskan bahwa jika ditemukan anak yang bekerja hingga mengabaikan pendidikan atau hak dasar lainnya, maka hal tersebut perlu ditindaklanjuti dan ditelusuri lebih lanjut.
Rabiatul juga mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta melabeli banyaknya anak yang berjualan sebagai fenomena pekerja anak di Berau. Ia menekankan pentingnya membedakan antara anak bekerja dan pekerja anak.
“Kita harus bisa membedakan antara anak yang bekerja membantu orang tua dan pekerja anak. Jangan langsung menyimpulkan bahwa di Berau banyak pekerja anak. Harus dilihat dulu kriterianya,” tegasnya.
Rabiatul juga berharap masyarakat, termasuk media, dapat membantu memberikan informasi apabila menemukan kondisi anak yang diduga mengalami eksploitasi. Hal ini penting karena keterbatasan jangkauan pengawasan pemerintah di lapangan.
“Kalau memang melihat ada kondisi yang tidak wajar, silakan datangi dan tanyakan. Informasi itu juga bisa disampaikan kepada kami agar bisa ditindaklanjuti,” pungkasnya. (fp*)












