TANJUNG REDEB – Hujan yang kerap mengguyur Kabupaten Berau pada sore hari membawa dampak bagi para pedagang Bazar Ramadan di kawasan Masjid Agung. Salah satunya dirasakan Mia, pedagang yang telah tiga tahun terakhir rutin berjualan di lokasi tersebut.
Ditemui pada 28 Februari, Mia mengaku pendapatannya tahun ini menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, ia menyebut kondisi kali ini membuatnya merugi.
“Jelas berkurang. Jualan malah merugi. Takjil juga sering dibawa pulang kembali karena tidak habis,” ungkapnya.
Mia menjual aneka takjil seperti es krimer, lumpia, risol, dan tahu isi. Namun, cuaca yang tidak menentu membuat pembeli enggan datang saat hujan turun menjelang waktu berbuka.
Ia menjelaskan, dalam satu bulan Ramadan biasanya hanya efektif berjualan sekitar 25 hari, karena di akhir masa dagang lokasi perlu dibersihkan kembali. Meski begitu, tahun ini ia merasa hasil yang diperoleh belum mampu menutup biaya operasional.
Biaya sewa tenda di bazar tersebut mencapai Rp1.250.000 per pedagang. Hingga kini, Mia mengaku pembayaran sewanya bahkan masih tertunda akibat kondisi penjualan yang sepi.
“Saya belum bayar sewanya. Tahun ini saja merugi, habis tidak habis dibawa pulang,” katanya.
Menurutnya, faktor cuaca menjadi tantangan terbesar. Saat hujan turun pada sore hari, jumlah pengunjung berkurang drastis. Padahal, momen Ramadan biasanya menjadi kesempatan bagi pedagang untuk meningkatkan pendapatan tahunan. (atrf)












