TANJUNG REDEB — Upaya mendorong kemandirian sektor pertanian di Kabupaten Berau mulai menemukan pijakan baru. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menilai inovasi pupuk lokal yang dikembangkan masyarakat memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi desa.
Selama ini, persoalan pupuk masih menjadi hambatan klasik. Keterbatasan pasokan, distribusi yang tidak merata, hingga ketergantungan pada suplai dari luar daerah kerap mengganggu produktivitas petani. Dalam konteks itu, kehadiran pupuk lokal dinilai bukan sekadar alternatif, melainkan solusi strategis.
“Kalau dikelola dengan baik, pupuk lokal ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tapi bisa dikembangkan menjadi produk yang bernilai jual,” kata Sumadi.
Ia mencontohkan langkah yang dilakukan kelompok tani di Kampung Kayu Indah yang berhasil mengembangkan pupuk lokal bernama Pourinka. Inisiatif tersebut dinilai menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menghadirkan solusi berbasis potensi lokal, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pihak luar.
Namun, Sumadi mengingatkan bahwa inovasi semacam ini tidak bisa berjalan sendiri. Peran pemerintah daerah tetap krusial, terutama dalam memastikan keberlanjutan dan kualitas produk. Dukungan yang dibutuhkan, menurut dia, tidak hanya berupa fasilitas fisik seperti sumur bor atau akses bahan baku, tetapi juga pendampingan teknis yang berkelanjutan.
Pendampingan itu mencakup riset, pengujian kualitas, hingga standardisasi produk agar pupuk lokal dapat digunakan secara lebih luas. “Standar mutu harus dijaga. Kalau sudah teruji dan memenuhi standar, pupuk lokal ini bisa dipasarkan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia melihat pengembangan pupuk lokal memiliki efek berlapis. Selain meningkatkan hasil pertanian, inovasi ini juga membuka peluang usaha baru di tingkat kelompok tani. Dengan demikian, aktivitas pertanian tidak lagi sekadar produksi pangan, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi berbasis desa.
Sumadi mendorong agar kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, akademisi, dan pihak swasta diperkuat. Menurut dia, sinergi tersebut penting agar inovasi pupuk lokal tidak berhenti sebagai inisiatif sporadis, melainkan berkembang menjadi sistem yang berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Jika dikelola secara konsisten, ia meyakini pupuk lokal bisa menjadi salah satu pilar kemandirian pertanian di Berau—sekaligus contoh bagaimana inovasi dari desa dapat menjawab persoalan struktural di sektor pangan.













