Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Zona.my.id PT Zona Nyaman Indonesia
Get
Example floating
Example floating
Kaltim

Wilayah Indonesia Hadapi Musim Hujan Lebih Lambat, Pemda Diminta Waspadai Kekeringan, Karhutla hingga Banjir

ZonaTV
18
×

Wilayah Indonesia Hadapi Musim Hujan Lebih Lambat, Pemda Diminta Waspadai Kekeringan, Karhutla hingga Banjir

Sebarkan artikel ini
f3c91082 621a0983
Foto: konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9).

JAKARTA — Musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 529 Zona Musim (ZOM), atau 61,08 persen wilayah Indonesia, berpotensi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan rata-rata klimatologis.

BMKG mengaitkan kondisi itu dengan fenomena El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut diperkirakan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan anomali suhu muka laut di kawasan Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83. Adapun indeks ENSO periode Juli-Agustus-September tercatat +2,63, yang mengindikasikan El Nino sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus berada di angka +0,376 dan berpeluang bertahan dalam fase positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.

Musim hujan banyak dimulai November dan Desember

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan awal musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia.

Sebanyak 185 ZOM atau sekitar 24,66 persen wilayah diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah baru mengalaminya pada Desember 2026.

Musim hujan pada November diperkirakan terjadi di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat bagian utara, serta Papua Selatan.

Adapun pada Desember, hujan diperkirakan mulai mendominasi sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua Selatan bagian selatan.

Secara keseluruhan, 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Hanya 11 ZOM atau 1,12 persen yang diprediksi lebih cepat, sedangkan 26 ZOM atau 2,15 persen diperkirakan sesuai dengan normal klimatologis.

Meski datang terlambat, sifat hujan pada musim 2026/2027 sebagian besar diprediksi berada dalam kategori normal. Kondisi ini diperkirakan terjadi pada 510 ZOM yang mencakup 69,76 persen luas daratan Indonesia.

Sebanyak 147 ZOM atau 18,55 persen luas daratan diprediksi mengalami hujan lebih basah dari normal. Sementara 42 ZOM atau 11,69 persen diperkirakan lebih kering.

Puncak hujan diperkirakan Desember-Februari

Puncak musim hujan juga tidak akan terjadi secara bersamaan.

BMKG memperkirakan 155 ZOM dengan cakupan 36,94 persen luas daratan Indonesia mencapai puncak hujan pada Desember 2026. Sebanyak 162 ZOM atau 25,68 persen diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari 2027, sedangkan 190 ZOM atau 16,79 persen pada Februari 2027.

Puncak hujan Desember diperkirakan terjadi di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua.

Pada Januari, puncak hujan diprediksi terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sementara pada Februari, wilayah seperti sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Maluku, serta sebagian besar Papua diperkirakan mencapai puncak musim hujan.

Durasi musim hujan pun diperkirakan lebih pendek. BMKG memperkirakan kondisi itu terjadi pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia.

Sebaliknya, 60 ZOM atau 8,58 persen wilayah diperkirakan mengalami musim hujan lebih panjang dari normal, sedangkan 40 ZOM atau 5,06 persen berada dalam durasi normal.

Kemarau masih berlangsung di 556 ZOM

Di tengah prediksi datangnya musim hujan yang terlambat, sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi musim kemarau.

Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mengatakan berdasarkan pemantauan perkembangan musim, 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia saat ini masih mengalami musim kemarau.

Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut tersebar di 25 provinsi.

Wilayah Bantul tercatat mengalami HTH terpanjang, yakni mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan.

“Bahkan El Nino 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” ujar Fachri.

Kondisi ini membuat risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap ketersediaan air masih perlu diwaspadai, terutama pada September-Oktober.

BMKG minta pemerintah siapkan langkah sebelum hujan datang

BMKG meminta pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat tidak hanya menunggu datangnya hujan. Informasi prediksi musim hujan perlu digunakan sebagai dasar untuk menyiapkan langkah antisipasi.

Di sektor pangan, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas tanaman berumur pendek. Pengendalian organisme pengganggu tanaman juga perlu diperkuat.

Ketersediaan air menjadi perhatian lain. Masyarakat diminta menghemat penggunaan air hujan, meningkatkan kapasitas tampungan air di tingkat rumah tangga, serta mengatur pengelolaan waduk dan pelepasan air secara proporsional, termasuk untuk operasional pembangkit listrik tenaga air.

Pemerintah daerah juga diminta memetakan cekungan air tanah dan lokasi potensial sumur bor. Pengelolaan drainase dan konservasi air perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pada sektor lingkungan dan kesehatan, pemerintah perlu menyiapkan respons terhadap kemungkinan kualitas udara yang tetap buruk selama musim kemarau berlangsung. Saat musim hujan tiba, masyarakat juga diminta mengantisipasi penyakit yang berkaitan dengan genangan air.

BMKG merekomendasikan pemberantasan sarang nyamuk, larvasidasi, serta kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan peningkatan kasus demam berdarah.

Di saat yang sama, sistem drainase dan kesiapan evakuasi perlu diperkuat untuk menghadapi potensi banjir dan longsor pada awal hingga puncak musim hujan.

BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan menggunakan Prediksi Musim Hujan 2026/2027 sebagai dasar peringatan dini sekaligus aksi dini.

Informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi juga diminta diperoleh melalui kanal resmi BMKG untuk menghindari informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi menimbulkan keresahan.

 

Di lansir dari situs resmi BMKG

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan