TANJUNG REDEB — Perumda Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau mencatat perubahan signifikan dalam kinerja keuangan sepanjang 2025. Setelah mengalami tekanan keuangan dengan membukukan kerugian sebesar Rp4,66 miliar pada 2024, perusahaan daerah tersebut berhasil membalikkan keadaan dan mencatat laba sebesar Rp1,53 miliar pada tahun berikutnya.
Perubahan kinerja ini menjadi salah satu indikator adanya perbaikan pengelolaan perusahaan, meski sejumlah tantangan operasional masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Berdasarkan Laporan Tahunan Perumda Air Minum Batiwakkal 2025, manajemen menyebut peningkatan kinerja keuangan tidak terlepas dari sejumlah langkah perbaikan yang dilakukan, mulai dari penguatan pengelolaan operasional, peningkatan jumlah pelanggan, hingga upaya efisiensi di berbagai sektor.
Pertumbuhan pelanggan menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan perusahaan. Sepanjang 2025, jumlah sambungan rumah (SR) tercatat mengalami kenaikan sebesar 9,60 persen.
Jumlah sambungan meningkat dari 39.716 SR pada 2024 menjadi 43.530 SR pada 2025. Penambahan pelanggan tersebut menjadi salah satu modal penting bagi perusahaan dalam memperluas cakupan pelayanan sekaligus memperkuat basis pendapatan.
Meski demikian, capaian laba tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pencapaian target bisnis yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025.
Total pendapatan Perumda Batiwakkal sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp86,50 miliar. Angka tersebut baru mencapai 70,09 persen dari target pendapatan yang ditetapkan sebesar Rp123,40 miliar.
Dengan demikian, masih terdapat selisih sekitar Rp36,9 miliar antara target dan realisasi pendapatan perusahaan.
Manajemen menjelaskan, salah satu faktor utama yang menyebabkan pendapatan belum mencapai target adalah belum terlaksananya penyesuaian tarif air minum sesuai rencana bisnis perusahaan.
Penyesuaian tarif dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara biaya operasional dengan pendapatan perusahaan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pemeliharaan infrastruktur dan pelayanan kepada pelanggan.
Selain persoalan tarif, Perumda Batiwakkal juga masih menghadapi tantangan teknis, seperti tingkat kehilangan air atau kebocoran jaringan serta ketidakakuratan meter pelanggan. Kondisi tersebut berdampak terhadap potensi pendapatan yang seharusnya dapat diterima perusahaan.
Kebocoran air menjadi salah satu perhatian utama karena air yang telah diproduksi dan didistribusikan tidak seluruhnya tercatat sebagai konsumsi pelanggan. Sementara itu, akurasi meter pelanggan juga berpengaruh terhadap ketepatan pencatatan pemakaian air dan perhitungan tagihan.
Meski menghadapi sejumlah kendala, manajemen menilai capaian laba pada 2025 menunjukkan adanya tren pemulihan perusahaan. Perbaikan kinerja ini menjadi pijakan untuk memperkuat pelayanan air bersih di Kabupaten Berau sekaligus menjaga keberlanjutan operasional perusahaan daerah.
Ke depan, Perumda Batiwakkal masih memiliki sejumlah agenda strategis, termasuk meningkatkan efisiensi, memperbaiki jaringan distribusi, mengendalikan tingkat kehilangan air, serta memastikan kebijakan tarif dapat mendukung keberlangsungan pelayanan tanpa membebani kelompok pelanggan tertentu.
Dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah dan perbaikan kinerja keuangan yang mulai terlihat, perusahaan berharap dapat meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memperkuat posisi sebagai penyedia layanan air bersih utama bagi masyarakat Berau.












