BERAU – Di tengah tekanan inflasi yang kian terasa dan harga bahan pokok yang terus merangkak naik, muncul ajakan sederhana namun bernilai strategis bagi masyarakat Berau: kembali ke sumber pangan mandiri.
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mendorong warga untuk mulai menanam singkong dan beternak lele di lingkungan masing-masing. Bukan sekadar saran biasa, langkah ini dinilai sebagai solusi konkret untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga di tengah tingginya ketergantungan pada pasokan luar daerah.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Dinas Pangan Berau. Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan, Basri, menilai pola konsumsi alternatif seperti ini relevan di tengah gejolak harga.
“Inflasi itu berkaitan dengan komoditas tertentu. Lele, misalnya, bisa menjadi substitusi kebutuhan ikan,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, ketika harga bahan pokok seperti beras melonjak, masyarakat tidak harus bergantung pada satu pilihan. Singkong, misalnya, bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat yang lebih terjangkau.
“Kalau beras naik, bisa beralih ke singkong. Itu bentuk substitusi,” jelasnya.
Tak hanya itu, lonjakan harga juga dipicu oleh meningkatnya biaya produksi, terutama yang bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya merembet ke berbagai produk olahan seperti tahu dan tempe.
“Semua yang pakai BBM pasti terdampak. Kalau biaya produksi naik, harga produk ikut menyesuaikan,” katanya.
Namun, kenaikan harga tidak selalu terlihat secara kasat mata. Sebagian pelaku usaha memilih strategi lain: mempertahankan harga, tetapi mengurangi jumlah produk yang dijual.
“Ada yang tidak menaikkan harga, tapi kuantitasnya dikurangi,” tambahnya.
Di sisi lain, persoalan mendasar masih membayangi: tingginya ketergantungan Berau terhadap pasokan dari luar daerah. Data menunjukkan sekitar 60 persen kebutuhan pangan masih didatangkan dari luar, sementara produksi lokal baru mampu memenuhi 40 persen.
“Terutama beras. Hampir sebagian besar komoditas masih bergantung dari luar,” ungkap Basri.
Meski begitu, secercah harapan mulai terlihat. Beberapa komoditas sayuran seperti sawi sudah mulai dibudidayakan secara lokal, meski belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan pasar. Sementara untuk komoditas seperti kentang, kol, dan tomat, pasokan masih sering bergantung dari luar daerah.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemandirian pangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Menanam singkong di pekarangan atau memelihara lele di kolam sederhana bisa menjadi langkah kecil dengan dampak besar.
Lebih dari sekadar bertahan di tengah inflasi, upaya ini juga membuka peluang baru: mengurangi ketergantungan, menekan pengeluaran, sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga dari lingkup paling dasar.













