BERAU — Tekanan inflasi yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah mulai dirasakan masyarakat, ditandai dengan naiknya harga bahan pokok dan sejumlah komoditas pendukung produksi seperti minyak, plastik, hingga kedelai.
Nilai tukar rupiah dilaporkan terus berfluktuasi dan berpotensi menembus Rp17.400 per dolar AS pada April 2026. Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di kisaran 2 hingga 8 persen akibat meningkatnya biaya impor bahan baku.
Di tengah situasi tersebut, Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi kondisi ekonomi saat ini.
“Memang kondisi negara kita yang belum begitu bagus, apalagi dengan perang Amerika, Israel melawan Iran. Tapi ekonomi juga tidak sampai memburuk. Saya menghimbau masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik,” ujarnya, Rabu (22/04/2026).
Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh global, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat hingga konflik geopolitik yang berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.
Ia menilai, langkah yang bisa dilakukan masyarakat saat ini adalah memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.
“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memanfaatkan lahan yang ada. Bisa bercocok tanam sayuran, singkong, dan sebagainya. Bisa juga pelihara lele, itu yang paling mudah. Pakai terpal saja, air sisa pun bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang lebih bijak di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
“Nilai rupiah ini memang sedang turun, tapi kita tetap tenang. Gunakan uang dengan sebaik-baiknya untuk kebutuhan pokok. Jangan terlalu memaksakan membeli hal-hal seperti mobil dan lainnya,” tambahnya.
Sumadi berharap, dengan sikap tenang dan langkah antisipatif, masyarakat dapat tetap bertahan menghadapi gejolak ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian di tingkat rumah tangga. (atrf)













