TANJUNG REDEB — Komoditas kakao asal Kabupaten Berau terus mencatatkan tren positif di pasar internasional. Produk cokelat dari daerah ini semakin diminati pelaku industri global, khususnya dari negara-negara Eropa, namun kapasitas produksi yang ada saat ini belum mampu mengejar tingginya permintaan.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyampaikan bahwa minat pasar luar negeri terhadap cokelat Berau menunjukkan peningkatan signifikan. Bahkan, permintaan yang masuk masih jauh melampaui ketersediaan pasokan yang bisa dipenuhi daerah.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir, Berau menerima kunjungan langsung dari perwakilan industri cokelat asal Prancis dan Swiss. Kedua negara tersebut menyatakan ketertarikan serius untuk menjalin kerja sama pasokan kakao fermentasi dari Berau dalam jumlah besar.
“Dari Prancis saja kebutuhannya mencapai puluhan ton per tahun, begitu juga dari Swiss. Ini menunjukkan bahwa kualitas cokelat Berau sudah diakui pasar premium dunia,” ujarnya.
Meski demikian, total produksi kakao Berau yang saat ini berada di kisaran ratusan ton per tahun dinilai masih belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar internasional yang terus berkembang.
Menurut Sri, keunggulan utama kakao Berau terletak pada proses fermentasi yang dilakukan secara konsisten. Proses tersebut menghasilkan profil rasa yang khas dan menjadi pembeda dibandingkan kakao dari daerah lain.
“Karakter rasanya unik, ada aroma segar seperti citrus. Ini yang membuat cokelat Berau punya nilai lebih di mata pelaku industri cokelat kelas dunia,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun Indonesia memiliki banyak sentra kakao di berbagai wilayah, namun tidak semua mampu menghasilkan kualitas fermentasi yang sesuai standar internasional seperti yang dimiliki Berau.
Untuk menjawab tantangan keterbatasan pasokan, pemerintah daerah mendorong optimalisasi lahan-lahan masyarakat yang belum produktif agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kakao. Pendataan lahan tidur hingga tingkat kampung menjadi langkah awal yang diminta Bupati kepada jajaran pemerintah wilayah.
“Pasarnya sudah jelas dan terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita menyiapkan lahannya dan meningkatkan produksi,” tegasnya.
Selain peningkatan budidaya, Sri juga menekankan pentingnya penguatan sektor hilir, mulai dari fasilitas fermentasi hingga pengolahan pascapanen, agar nilai jual kakao Berau semakin tinggi dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pemerintah daerah pun membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha dan mitra strategis lainnya guna memperkuat ekosistem kakao lokal.
“Kalau rantai produksinya kuat dari hulu ke hilir, masyarakat akan merasakan dampaknya secara langsung. Kakao bisa menjadi penggerak ekonomi baru bagi Berau,” pungkasnya.(SC)












