Berau – Masalah pemborosan pangan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan, setiap tahun Indonesia menghasilkan limbah pangan dalam jumlah sangat besar, yakni puluhan juta ton. Jumlah tersebut setara ratusan kilogram makanan terbuang oleh setiap penduduk dalam setahun.
Ironisnya, makanan yang terbuang tersebut sebenarnya mengandung nilai gizi yang sangat besar. Jika dimanfaatkan dengan baik, pangan yang terbuang mampu mencukupi kebutuhan energi dan zat gizi jutaan masyarakat Indonesia, bahkan hampir separuh dari total penduduk.
Kondisi ini mendorong pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional untuk mengintensifkan Gerakan Selamatkan Pangan (GSP). Program ini bertujuan menekan praktik pemborosan pangan sekaligus mengurangi timbulan sampah makanan yang masih mendominasi komposisi sampah di berbagai daerah.
Di Kalimantan Timur, implementasi GSP dinilai semakin mendesak. Provinsi ini bukan daerah produsen utama pangan, sehingga sebagian besar kebutuhan masyarakat masih dipasok dari luar wilayah, bahkan dari luar pulau. Ketergantungan tersebut membuat setiap bahan pangan yang tersedia perlu dikelola secara efisien dan bertanggung jawab.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur, Amaylia Dina Widyastuti, menyebut bahwa gerakan ini menjadi langkah strategis untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menghargai pangan.
“Ketersediaan pangan di Kalimantan Timur sangat bergantung pada daerah lain. Karena itu, perilaku boros pangan harus ditekan agar pasokan yang ada benar-benar dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya saat ditemui baru ini.
Ia menambahkan, pemborosan pangan tidak hanya berdampak pada kerugian ekonomi, tetapi juga memperburuk persoalan lingkungan. Sampah makanan berkontribusi besar terhadap peningkatan volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Melalui GSP, pemerintah daerah gencar melakukan edukasi Stop Boros Pangan kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk anak-anak. Pembiasaan sejak usia dini untuk mengambil dan menghabiskan makanan dinilai efektif dalam membentuk pola konsumsi yang lebih bijak di masa depan.
Menurut Amaylia, upaya pengurangan sampah makanan memerlukan kerja sama lintas sektor dan konsistensi jangka panjang. Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan adanya tren penurunan sampah makanan, meski hasil tersebut masih perlu diperkuat dengan partisipasi aktif masyarakat.
Sebagai panduan, Gerakan Selamatkan Pangan mendorong masyarakat menerapkan delapan langkah sederhana dalam keseharian, mulai dari mengambil makanan sesuai porsi, mengelola sisa makanan, berbelanja sesuai kebutuhan, hingga mendonasikan pangan berlebih kepada pihak yang membutuhkan.
Dengan perubahan perilaku konsumsi tersebut, pemerintah berharap persoalan pemborosan pangan dapat ditekan secara bertahap, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan menjaga keberlanjutan lingkungan di Kalimantan Timur.












