TANJUNG REDEB – Dampak negatif penggunaan gadget pada anak, mulai dari penurunan minat baca hingga kelelahan fisik, menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan.
Plt. Sekretaris Disdik Berau, Elly Kesuma, menanggapi isu masifnya penggunaan HP di kalangan anak di bawah umur, Disdik mendorong pendekatan yang lebih humanis dan kolaboratif antara sekolah dan orang tua.
Disdik menyadari bahwa teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) atau aplikasi seperti Gemini memiliki sisi positif yang luar biasa jika digunakan untuk belajar dan bertanya hal-hal edukatif.
Namun, tanpa pengawasan, anak-anak cenderung terjerumus pada penggunaan yang tidak produktif.
Sebagai solusinya, Disdik menekankan pentingnya Kelas Parenting yang dilakukan secara rutin, idealnya satu bulan sekali.
“Melalui pertemuan antara guru dan wali murid ini, kita bisa mendiskusikan kondisi anak. Guru bisa melihat jika anak tampak lelah matanya atau capek karena terlalu banyak main gadget di rumah, dan langsung menghimbau orang tuanya,” ungkap elly
Selain edukasi kepada orang tua, Disdik juga menginstruksikan para guru, terutama di tingkat TK dan kelas awal SD, untuk memberikan alternatif kegiatan yang menarik di sekolah:
Menghimbau orang tua agar anak hanya boleh memegang gadget pada hari libur, itu pun dibatasi hanya 2 sampai 3 jam sehari.
Memperkenalkan kembali permainan seperti ular tangga dan menyusun puzzle untuk melatih kognitif anak tanpa layar.
Melatih keterampilan menggunakan lilin (malam) yang dibentuk berbagai rupa untuk mengalihkan fokus anak dari permainan digital.
Guru didorong membawa siswa keluar kelas untuk mengenal lingkungan sekitar agar anak memiliki kedekatan sosial yang lebih kuat dibanding dengan dunia maya.
Dengan kombinasi antara pengawasan ketat dari orang tua dan kreativitas guru dalam menghidupkan suasana sekolah, diharapkan minat belajar anak dapat kembali meningkat dan ketergantungan pada gadget dapat diminimalisir. (akti)












