TANJUNG REDEB – Saat Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan, termasuk telur. Namun, salah satu penjual telur lokal di Berau, Wati, mengaku memilih tidak menaikkan harga jual meski agen tempat ia mengambil stok telah menaikkan harga.
Wati mengatakan, kenaikan memang terjadi dari pihak agen. Meski begitu, ia tetap mempertahankan harga agar pelanggan tidak beralih ke penjual lain.
“Ada kenaikan dari agennya, tapi dari saya tidak ada. Saya mau jaga pelanggan saya. Jangan karena naik seribu dua ribu, orang cari ke lain,” ungkapnya saat diwawancarai, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, telur yang dijualnya terdiri dari telur biasa dan telur omega. Untuk telur omega, harga per piring saat ini Rp63 ribu, sementara untuk perikat berada di kisaran Rp315 ribu. Adapun telur biasa dijual dengan harga yang bervariasi tergantung ukuran, mulai dari Rp58 ribu hingga Rp62 ribu per piring. Sementara telur jumbo berkisar Rp67 ribu dan bisa mencapai Rp70 ribu, meski menurutnya jarang diminati.
Selain mempertahankan harga, Wati menekankan bahwa kualitas menjadi hal utama yang ia jaga. Ia mengaku selalu menyortir telur sebelum dijual dan bersedia menukar telur jika ada yang rusak atau tidak sesuai.
“Kalau ada yang warnanya lengket, kalau ada yang kecil, saya sortir lagi. Orang juga kalau mau tukar satu dua boleh,” katanya.
Menurut Wati, keuntungan yang ia dapat tidak terlalu besar, tetapi ia lebih mengutamakan kepercayaan pelanggan. Ia menilai menjaga hubungan baik dengan pembeli menjadi kunci agar usaha tetap bertahan, terutama saat harga bahan pokok mulai bergerak naik menjelang Ramadan. (atrf)












